Eksistensi Buku Mulai Tergeser e-Book?


e-Book ReaderSejak kecil saya sudah menyukai buku. Uang yang saya terima dari orangtua, dari tante, om dan lain lain pasti sebagian saya tabung untuk membeli buku. Sampai SMA dan awal kuliah pun buku masih menjadi sumber informasi utama bagi saya. Tapi, nampaknya kini tidak lagi. Hampir seluruh informasi yang saya dapatkan bersumber dari internet: Google, Wikipedia, forum online, blog, dan website-website lainnya.

Dibandingkan dengan medium lain di era digital, buku adalah salah satu yang paling kolot, paling mahal, paling tidak praktis, dan kekurangan lainnya. So sepertinya di era digital dan era masuknya iPad dan device sejenisnya, bisa dikatakan eksistensi dan kepopuleran buku akan segera punah. Berikut adalah pemikiran saya akan beberapa kondisi yang akan dialami si Buku di masa depan.

Buku Menjadi E-Book / E-Buku

Dengan mengganti buku konvensional menjadi E-Book akan menghilangkan sebagian besar kekurangan buku. Pertama, tidak ada lagi biaya dan efek samping dari penggunaan kertas. Sehingga harga buku bisa turun jauh dibandingkan sekarang, karena sudah tidak ada biaya cetak. Kemudian ada juga faktor ramah lingkungan, paling tidak ada sekitar 20 juta pohon yang bisa diselamatkan seandainya 3 milyar buku tidak di cetak dalam setahun.

Selain itu kita pun terbebas dari keharusan membawa buku dan merawatnya. 3-4 buah buku saja sekitar 2-3 kg. Belum juga kita harus merawatnya dari kutu buku. Kalau e-book reader seperti iPad, Kindle dan lain lain makin terjangkau dan makin banyak produk lokal-nya buku yang 2-3 kg itu bisa dibawa hanya kurang dari 1 kg saja. So e-book dan device pendukungnya bisa memunculkan kepraktisan, keramahlingkungan, keawetan, dan kemudahan bagi kita pembaca setia buku.

Orang Lebih Tertarik Baca Ringkasan

Rata-rata dari kita saat ini sudah tidak punya waktu untuk membaca lebih dari 1 buku per-minggu bahkan per-bulan. Di masa depan mungkin akan semakin diperparah dengan aktifitas manusia yang terus meningkat dan beragam, sementara media informasi semakin bertambah. Tetapi waktu tetap tidak bertambah yaitu 24 jam sehari. Kalau kita lihat banyak buku teknis yang intinya hanya 1 tapi dibahas sampai ratusan halaman. So… orang orang akan lebih suka membaca ringkasan, yang saat ini tersedia di blog, forum dan web site.

Buku Menjadi Media Interaktif

Meskipun e-book memberikan kelebihan seperti dapat di search, di copy secara cepat, dan disimpan tanpa makan tempat, namun format dasarnya saat ini masih begitu begitu saja : Statik. Dengan mengikuti transisi website yang dulunya dari statik ke dinamis, e-book seharusnya bisa menjadi lebih interaktif. Misalnya orang langsung bisa mengirimkan komentar ke si pembuat bukunya. Ada tes/kuis online untuk menguji pemahaman pembaca. Adanya fitur social media: tweet paragaraf penting kemudian di share atau share link e-book di FB dan lain lain. Lalu grafik dan tabel bisa disortir di filter dan langsung dilakukan penghitungan. Mungkin karena sudah ada e-book reader bisa ditambahkan multimedia dari youtube, musik, suara dan lain lain.

Si Buku Menjadi Kolaboratif

Rasanya berakhir sudah masa masa emas di mana sebuah karya besar dihasilkan oleh satu otak saja. Dua (apalagi banyak) kepala akan lebih baik dari satu. Sepertinya kedepan dengan adanya akses internet, adanya device pembaca e-book yang makin canggih, adanya situs social media, dan adanya komunitas yang bersangkutan, e-book nantinya akan merupakan hasil kerja sama beberapa penulis yang bisa saja terpisah jarak. Ya macam Wikipedia lah.. Pasti hasil karyanya lebih detil dan luas persepsinya.

~

So.. kesimpulannya dengan tingginya akses internet, mobilitas manusia, perkembangan teknologi dan keterbatasan waktu. Sepertinya buku tidak lagi cocok di era informasi dan sebaiknya minggir digantikan dengan teknologi baru yang lebih interaktif, kolaboratif, update dan praktis. Bagaimana anda sendiri melihat si buku saat ini dan kedepannya? saya nantikan ya komentar anda.