Kekuatan dari “Accidental Meeting”


* catatan editor: bagi pengembang aplikasi yang sedang mengembangkan usahanya sendiri di bidang digital (atau bahasa kerennya startup), kemampuan koding tidaklah cukup apalagi jika tidak memiliki partner yang melengkapi dari sisi bisnis. Pengembang aplikasi juga harus mendalami berbagai macam ilmu, salah satunya adalah bersilaturahmi bisnis. Oleh karena itu saya mengangkat artikel ini yang ditulis oleh Adam Ardisasmita dari Arsanesia.

Kalau ada yang bertanya “Salah satu kunci untuk bisa sukses membangun startup itu apa?”, menurut saya salah satu kunci suksesnya adalah silaturahmi atau bahasa kerennya networking. Nah cara ber-networking yang paling gampang dan menurut saya efisien adalah datang ke acara-acara, meetup, pameran, dan lain sebagainya.

Tujuan datang ke acara seperti itu apa? Kita berkenalan dengan orang di sebelah kita, dengan orang yang kebetulan menjadi pembicara, mengisi stand, dan lain sebagainya. Kita tukeran kartu nama, ceritkan startup apa yang sedang kita bangun, tanya profesi dia apa, dan ngobrol-ngobrol santai aja. Tujuan utamanya adalah ya cuma kenalan saja, biar kita tahu siapa dia dan apa mungkin suatu saat bisa kita bantu untuk dia atau sebaliknya.

Ketika datang ke sebuah acara menurut saya tidak perlu dengan niat sehabis dari acara tersebut kita harus dapat minimal empat proyek, atau dua rekanan, atau lain sebagainya. Kalau memang ada yang menawarkan kesempatan (baik itu berupa proyek, kerja sama, atau lainnya) langsung di tempat, itu tidak menjadimasalah. Namun, jangan jadikan itu sebagai tujuan utama ketika mendatangi sebuah acara.

Saya ada dua cerita tentang bagaimana kesempatan lahir dari kekuatan “accidental meeting”, yakni pertemuan yang tidak di sengaja dari berbagai acara yang diikuti.

Cerita Pertama

Saya sekitar satu tahun yang lalu pernah pitching ke sebuah venture capital. Kebetulan pitching di depan sekitar 7-8 investor. Di saat pitching, saya mencoba mengenal masing-masing investor yang ada di situ dengan berbagai latar belakang mereka. Pitching tersebut berakhir dan memang mungkin saya tidak jodoh dengan venture capital tersebut akhirnya tidak ditindaklanjuti lagi.

Lalu, sekitar hampir satu tahun kemudian saya datang ke sebuah acara peluncuran produk Nokia. Di sana saya diundang untuk bertemu dengan petinggi-petinggi dari Nokia internasional. Secara kebetulan, di acara tersebut salah satu investor yang waktu itu hadir ketika saya pitching 1 tahun yang lalu juga ada di lokasi. Saya menyapa beliau dan beliau ternyata masih mengingat saya dan menanyakan kabar Arsanesia. Perbincangan singkat itu pun berakhir dengan beliau yang meminta kartu nama saya lagi karena kartu nama saya di dia sudah hilang dikarenakan terakhir ketemuan dengann beliay ya setaun yang lalu itu.

Sekitar dua bulan semenjak acara peluincuran produk Nokia itu, ada lagi acara business connect. Ternyata beliau menjadi salah satu pembicara di acara tersebut. Sekitar setengah jam sebelum sesi beliau dimulai, saya keluar ruangan dan mengambil makanan. Ternyata beliau sedang duduk di luar menunggu sesinya. Lalu kita berbincang ringan di luar hingga akhirnya kita bicara bisnis dan bertukar pikiran tentang kesempatan apa yang bisa kita kembangkan bersama. Ketiga pertemuan saya dengan beliau semuanya adalah “accidental meeting” di tempat yang tidak saya duga dan akhirnya berakhir menjadi sebuah kesempatan.

Cerita Kedua

Sekitar bulan Oktober atau November tahun 2011 lalu, saya pernah diminta menjadi pembicara untuk mengisi INAICTA. Di sesi makan siang, para pembicara diberikan ruang VIP untuk makan. Di ruang VIP tersebut, saya kebetulan bertemu dengan seorang petinggi dari sponsor acara INAICTA. Di sesi ngobrol yang seru tersebut, ada seseorang dari studio game internasional yang sudah sangat besar namanya bergabung di meja saya. Pada obrolan tersebut, saya sempat bertukar kartu nama dengan beliau.

Lalu, sekitar 2 minggu yang lalu saya menghadiri sebuah meetup dan secara kebetulan lagi bertemu dengan dia. Dia sudah tidak bekerja di perusahaan game itu lagi tetapi sudah pindah ke sebuah perusahaan game di Singapura yang sedang ingin mengembangkan sayapnya. Ketika bertemu, dia ternyata masih ingat saya. Kita ngobrol-ngobrol santai sampai akhirnya masuk ke ranah bisnis dan membagi kesempatan apa yang bisa kita kembangkan bersama-sama. Akhirnya terbukalah sebuah pintu rezeki baru dari kejadian “accidental meeting” ini.

~

Itu tadi beberapa contoh saja dari “accidental meeting” yang pernah saya alami serta yang kita tidak tahu kapan dan bagaimana bisa menjadi pintu rezeki buat kita. Intinya adalah ketika kita berkenalan dengan orang, niat kita adalah untuk silaturahmi, menambah kenalan, belajar dari orang tersebut, dan niatkan untuk melihat apa yang bisa kita bantu untuk dia. Hubungan baik itu harus tetap dijaga karena kita tidak tahu darimana kesempatan itu datang. Bisa saja bukan dari orang itu secara langsung, tapi dari saudara temannya orang itu yang akhirnya menjadi pintu rezeki buat kita.

Itulah yang membuat saya merasa kalau ada acara, sebisa mungkin saya hadir. Tujuannya agar orang tersebut masih ingat dengan kita dan lebih mudah untuk berbincang ketika sudah pernah kenal sebelumnya daripada harus berkenalan dengan orang lain. Namun begitu, mendatangi banyak acara juga ada tantangannya yaitu fisik tubuh. Saaya pernah karena ada berbagai macam acara dan keperluan, saya hari Minggu di Bandung, Senin di Jakarta, Selasa di Bandung, Rabu di Jakarta, Kamisnya di Bandung lagi, dan malamnya langsung sakit. Hehe. Sebenernya sih kuncinya ada di menjaga stamina dengan pola hidup yang sehat sih, tapi itu lain bahasannya nanti :p

Artikel ini merupakan guest post dari Adam Ardisasmita. Ia saat ini menjabat sebagai CEO di Arsanesia, sebuah studio game di Bandung. Pembaca juga bisa mem-follow akun Twitternya di @ardisaz
,