Melihat Isu-Isu Seputar RIM Dari Perspektif Lain


Logo RIMSebetulnya saya agak geleng-geleng kepala belakangan ini dengan isu seputar RIM di Indonesia, terutama setelah Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Informasi (LPPMI) merencanakan untuk mengajak masyarakat Indonesia untuk melempar handphone BlackBerry mereka ke Kedubes Kanada. Menurut saya ajakan ini kalau secara kasar saya bilang adalah memalukan.

Sebelumnya saya ingin mengklarifikasi bahwa saya bukan orang suruhan / pegawai dari RIM, saya sendiri sebetulnya malah lebih nge-“fans” sama Android. Saya hanya ingin mengutarakan pendapat saya tentang isu-isu yang beredar dan mencoba melihat dari perpektif yang berbeda.

Soal isu pembuatan pabrik BlackBerry di Malaysia dan bukan di Indonesia, mari kita lihat Nexian. Nexian saja yang notabene salah satu vendor handphone “lokal” paling besar di Indonesia tidak memiliki pabrik di sini. Dulu saya pernah membaca bahwa Nexian punya pabrik di sini untuk perakitan handphone, namun akhirnya ditutup dan memilih impor langsung dari negara lain untuk kemudian diubah dan direbranding di sini. Alasan yang diberikan Nexian adalah karena bea masuk impor handphone lebih murah dibandingkan jika harus mengimpor komponen satu per satu lalu dirakit di Indonesia.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa banyak hal yang menjadi ribet di Indonesia termasuk juga di dunia usaha. Saya juga sering mendengar keluhan relasi saya yang berasal dari luar negeri ketika masuk ke Indonesia untuk usaha mereka. Mulai dari harus “bermain” uang hingga rumitnya birokrasi di Indonesia. Jadi tidak aneh jika banyak perusahaan yang lebih memilih membangun usaha mereka di luar negeri walaupun Indonesia termasuk salah satu target pasar mereka.

Investasi di Indonesia juga menurut saya tidak harus dalam bentuk seperti pabrik atau kantor. RIM sendiri sebetulnya sudah berinvestasi untuk para pengembang aplikasi di Indonesia, bisa dilihat dari BlackBerry DevCon Asia yang pertama kali diselenggarakan terletak di Bali, program kerja sama antara RIM dengan universitas-universitas di Indonesia, hingga hackathon untuk para pengembang aplikasi BlackBerry di Indonesia. Bahkan kabarnya RIM akan berinvestasi jauh lebih besar lagi untuk para pengembang aplikasi di Indonesia dalam waktu dekat. Ini juga berlaku di dunia startup, investasi tidaklah harus semuanya dalam bentuk fisik.

Rama Mamuaya dari DailySocial juga pernah berkomentar soal bentuk investasi seputar isu hangat tentang RIM:

So Indonesian government thinks that “investment” means something you can see e.g server hardware and not trainings, workshops etc. Pathetic

Nah sebagai tambahan bacaan untuk melihat isu-isu seputar RIM dari perspektif lain bisa membaca tulisan Rama Mamuaya dan Putra Setia Utama dari TeknoJurnal tentang alasan mereka kenapa beberapa perusahaan luar negeri tidak mau berinvestasi seperti membuat kantor di Indonesia. Artikelnya bisa dibaca di link ini dan link ini.

Bagaimana menurut pembaca TeknoJurnal sendiri tentang isu-isu seputar RIM di Indonesia saat ini? Silahkan dishare di kolom komentar.