Rekap Acara Indonesia Developer Summit: Tren Artificial Intelligence

Rekap Acara Indonesia Developer Summit: Tren Artificial Intelligence

Indonesia Developer Summit

Hari Selasa ini merupakan hari pertama dari rangkaian acara Indonesia Developer Summit yang diselengarakan oleh Codepolitan dan Refactory di Bandung. Di hari pertama acara ini materi yang dibahas terkait AI (Artificial Intelligence), Big Data, dan diskusi panel terkait tren AI kedepannya.

Pada sesi diskusi panel terdapat tiga panelis yang masing-masing merupakan ahli di bidangnya yaitu M. Saad Nurul Islah sebagai RND di Qiscus yang merupakan aplikasi provider chatting, Anshori Muslim dari eFishery alat pemberi pakan otomatis, dan Ken Ratri sebagai founder GeekHunter yang merupakan IT recruitment consultant.

Diskusi pertama dimulai dengan M. Saad Nurul Islah yang menjelaskan mengenai Qiscus yang merupakan provider chat untuk bisnis. Qiscus mempunyai produk bernama Qiscus SDK yang bisa digunakan oleh perusahaan jika ingin membuat fitur chatting. Salah satu aplikasi yang sudah menggunakan Qiscus SDK adalah Kiwari yang bisa diunduh di App Store ataupun Google Play Store.

Saad juga menjelaskan mengenai chatbot yang merupakan conversation no agent ini adalah bagian kecil dari AI tapi sangat bermanfaat untuk banyak hal. Salah satu yang paling familiar sekarang adalah chatbot menjadi customer service untuk situs web e-commerce. Dengan chatbot, pelayanan lebih efektif karena tidak ada batasan waktu.

Menurut Saad, bagi programer yang tertarik dan ingin mencoba membuat aplikasi yang berhubungan dengan AI, yang paling harus dipahami betul adalah seperti apa alur kerja chatbot. Ketika sudah memahami dasarnya, untuk mengaplikasikannya akan mudah dipelajari.

Untuk tren kedepannya terkait AI, menurut Saad, AI akan sangat banyak dibutuhkan dan cepat perkembangannya. Hal ini terkait dengan cepat berkembangnya tren IoT (Internet of Things). Produk IoT untuk smarthome sudah mulai banyak dipasaran dan antarmuka untuk menghubungkan IoT dengan manusia salah satunya adalah dengan conversation.

Selanjutnya Anshori Muslim menjelaskan sedikit mengenai eFishery yang memberikan budaya baru di dunia aqua culture. Dengan eFishery, petani ikan atau udang akan lebih mudah mengontrol pemberian pakan. Terkait dengan AI, Anshori menjelaskan di alat eFishery itu ada sebuah sensor yang bisa mengetahui nafsu makan ikan atau udang. Sensor tersebut adalah sedikit contoh dari AI karena sensor tersebut mampu mempelajari pola hidup ikan sehingga akan mengetahui kapan ikan tersebut lapar dan harus diberikan pakan.

Menurut Anshori, trend AI berkaitan dengan IoT. Perkembangan IoT semakin cepat seperti yang kita tahu saat ini sudah banyak perangkat dengan harga murah yang dijual dipasaran dan bagi programer untuk mempeljari IoT lebih mudah hanya saja di Indonesia masih terbentur dengan regulasi. Sedangkan untuk tren AI sudah jelas akan sangat populer dan kedepannya orang yang memiliki skill dibidang AI akan sangat banyak dicari dan dibutuhkan.

Selanjutnya ada Ken Ratri yang menjelaskan bahwa GeekHunter selain membantu perusahan mencari talenta juga membantu para programer untuk mendapatkan pekerjaan dengan karir yang bagus. Ken juga menjelaskan bahwa kebutuhan AI ini sangat banyak sekali, terbukti dengan tiga perusahaan besar di dunia yang sudah mempersiapkan dana US$650.000.000 untuk merekrut orang yang ahli di bidang AI.

Saat ini AI sudah diterapkan di dunia recruitment untuk mencari karyawan yang kompeten dengan cara memasukkan profil karyawan ke dalam aplikasi, kemudian dengan teknologi AI akan memberikan hasil lulus tidaknya karyawan tersebut. Selain itu AI juga sudah diterapkan untuk sesi wawancara penerimaan karyawan baru, dengan AI bisa dipelajari perkataan dan mimik muka si pelamar kerja.

Selanjutnya ada materi dari Johanes Alexander, Lead Solution Architect Business Intelligence di GO-JEK menjelaskan mengenai Big Data yang merupakan istilah yang menggambarkan volume data yang besar baik data yang terstruktur maupun data yang tidak terstruktur. Big Data telah digunakan dalam banyak bisnis. Di GO-JEK salah satu data yang cukup besar adalah perilaku pengguna ketika menggunakan aplikasi GO-JEK.

Dengan banyaknya data yang sudah diolah akan memudahkan kita untuk menentukan keputusan dan memberikan informasi lebih dari pengguna. Big Data ini berkaitan dengan bisnis. Data yang dimiliki GO-JEK sangat banyak setiap harinya, dan data tersebut yang menjadi acuan dalam perbaikan pelayanan dari GO-JEK.

Selain itu Johanes menjelaskan mengenai Business Intelligence yang merupakan sekumpulan teknik dan tool untuk mentransformasi data mentah menjadi informasi yang berguna untuk tujuan analisis bisnis. Teknologi BI dapat mengolah data yang tidak terstruktur dalam jumlah yang sangat besar untuk membantu mengidentifikasi, mengembangkan, dan selain itu membuat kesempatan strategi bisnis yang baru dan tujuan dari BI yaitu untuk memudahkan interpretasi dari jumlah data yang besar tersebut.

* Disclosure: TeknoJurnal adalah media partner Indonesia Developer Summit

,