Ryan Gondokusumo – Bermimpi Membuka 100.000 Lowongan Pekerjaan Untuk Freelancer

Ryan Gondokusumo – Bermimpi Membuka 100.000 Lowongan Pekerjaan Untuk Freelancer

ryan header

Ryan Gondokusomo merupakan salah satu pendiri dari dua startup yang saat ini tengah naik daun yakni Sribu dan Sribulancer. Kedua startup ini mempunyai sistem yang mempertemukan klien dengan freelancer untuk mengerjakan sebuah proyek.

Kini Sribu dan Sribulancer telah berkembang dengan memiliki jumlah klien dan freelancer yang banyak. Selain itu, jumlah dan nilai proyek yang ditawarkan klien untuk freelancer pada kedua situs ini bisa dibilang telah besar.

Pengalaman di Bidang TI

Ryan merupakan pria kelahiran kota Jakarta pada tanggal 16 Januari 1985. Dirinya menyukai dunia TI dan startup berkat terinspirasi dari ayahnya, Jeff Bazos (Amazon), dan Neil Pattel (Kiss metrics). Ryan menempuh pendidikan  kuliahnya di Purdue University, Indiana, Amerika Serikat untuk jurusan Network Engineering Technology.

Dengan bermodalkan pengetahuan dan pengalamannya di bidang TI pada masa kuliah inilah yang membuat Ryan awalnya memutuskan untuk bergabung di perusahaan Distribution Service Technologies sebagai Teknisi Integrasi Data pada bulan September 2006 setelah dirinya lulus kuliah. Selanjutnya dalam kurun waktu setahun, akhirnya Ryan memutuskan untuk pindah dan bekerja sebagai Network Engineer di PT. Sigma Cipta Caraka.

Pada Mei 2008 hingga Juni 2011, dirinya dipercaya menjadi Head of Business Development di perusahaan PT. Bayu Buana Travel. Di waktu yang bersamaan juga, Ryan menjadi Internal Consultant dari perusahaan Pioneerindo Gourmet International.

Sribu

Sribu Logo

Ketika bekerja di perusahaan sebelumnya, Ryan pernah mendapatkan tugas dari atasannya untuk membuat desain kalender. Selanjutnya, dirinya memberikan permintaan pembuatan desain kalender di situs Kaskus dalam bentuk kontes. Ternyata hanya dalam waktu 7 hari, Ryan berhasil mendapatkan lebih dari 300 desain.

Berkat kejadian ini, membuat Ryan berpikir bahwa konsep seperti ini bisa dikembangkan menjadi sebuah bisnis. Dari sana juga dirinya mulai mencari dan mengetahui mengenai konsep semacam ini yang dinamakan crowdsourcing.

Awalnya, Ryan mengetahui beberapa perusahaan di luar negeri yang menggunakan konsep bisnis semacam ini yang salah satunya adalah 99 designs. Namun menurut dirinya belum ada perusahaan sejenis ini di Indonesia.

Selanjutnya, Ryan memantapkan diri untuk mengembangkan perusahaan semacam ini dan ingin mencari tantangan baru sehingga langsung terjun ke dunia startup. Akhirnya pada bulan September 2011, Ryan bersama Wenes Kusnadi membuat startup baru yang bernama Sribu.

Sribu

Sribu ini merupakan startup yang berbentuk website dan berbasis crowdsourcing dimana mempertemukan desainer dengan klien yang nantinya klien akan menawarkan berbagai macam proyek desain dengan persyaratan dan nilai imbalan yang terdiri dari skala kecil hingga besar. Selanjutnya, desainer akan mengajukan desain yang telah dibuatnya untuk proyek tersebut dan desain terbaik yang dipilih oleh klien akan mendapatkan imbalan yang telah ditentukan sejak awal.

Menurut Ryan, konsep crowdsourcing ini dipilih karena ada beberapa alasan. Pertama, Ryan melihat bahwa di pasar ini ternyata ada masalah besar bagi klien yang ingin mendapatkan desain. Misalnya dalam pembuatan desain logo ketika klien menggunakan langsung jasa freelancer maka hanya mendapatkan 3 hingga 4 pilihan desain dengan kualitas yang standar.

Sedangkan apabila menggunakan agensi maka klien akan mendapatkan lebih banyak pilihan desain dengan kualitas yang bagus, namun harganya akan menjadi sangat mahal bahkan bisa di atas 30 juta Rupiah untuk sebuah logo.

Untuk itu, akhirnya Ryan memutuskan untuk membuat sebuah platform Sribu agar bisa menjadi solusi bagi klien yang membutuhkan desain. Dengan adanya Sribu ini klien akan mendapatkan lebih dari 100 pilihan desain dengan kualitas bagus dan resiko kecil. Hal ini karena Sribu memiliki sistem garansi uang kembali. Menurut Ryan, Sribu merupakan jawaban masalah desain yang ada di pasar dengan konsep crowdsourcing.

Menariknya, ketika Sribu baru pertama kali diluncurkan hanya memiliki satu klien namun jumlah desainer yang telah mendaftar mencapai lebih dari 2.000 desainer. Menurut Ryan, untuk mendapatkan klien merupakan hal sulit untuk bisnis yang baru dijalankan karena tingkat kepercayaan dan brand belum terbentuk.

Selain itu, konsep crowdsourcing yang diterapkan pada Sribu masih baru di Indonesia ketika pertama kali dibuat. Untuk mengatasi masalah tersebut, Ryan dan rekan-rekannya di Sribu menawarkan produknya ke teman dekat terlebih dahulu sambil membuat testimonial yang kuat agar setelah itu klien lain akan menyusul menggunakan jasa Sribu.

Hingga saat ini, Sribu telah memiliki 60.000 desainer dan 3.000 klien berbayar baik itu UKM maupun perusahaan besar dari berbagai industri di Asia Tenggara. Dalam hal ini Sribu menawarkan 20 kategori desain mulai dari desain logo, sampul buku, kemasa, website, banner, dan masih banyak lagi.

Sebagai tambahan, Sribu ini pernah mendapatkan beberapa penghargaan pada ajang SparxUP 2011 Award, Inaicta 2013 Award, dan Nominee Aipcta 2013 Award. Momen di SparxUP 2011 merupakan salah satu yang paling berkesan bagi Ryan karena merupakan pertama kalinya melakukan pitching Sribu di depan publik dan akhirnya mendapatkan penghargaan Best User Generated Content website di ajang tersebut.

sribu all

Sribulancer

Sribulancer Logo

Seiring dengan pertumbuhan dari Sribu yang signifikan, maka pada bulan November 2014 Ryan bersama rekan-rekan di Sribu memutuskan untuk melakukan ekspansi bisnis dengan membentuk startup baru yang bernama Sribulancer.

Sribulancer sendiri merupakan startup berbasis website yang membantu bisnis untuk mencari freelancer yang tepat di seluruh dunia. Layanan freelancer yang dikembangkan oleh Ryan dan rekan-rekan Sribulancer ini mulai dari jasa pembuatan website, desain grafis, video, jasa penulisan artikel, dan masih banyak lagi.

Proyek pertama dari Ryan dan rekan-rekan di Sribulancer adalah proyek entri data yang diberikan oleh Tripvisto. Dalam hal ini klien tersebut membutuhkan freelancer entri data untuk melakukan edit dan input intinerary trip di website yang dimilikinya dan dalam hitungan hari, Tripvisto mendapatkan 140 proposal dan memilih freelancer yang sesuai. Pekerjaan tersebut dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 2 hari.

Menurut Ryan, sistem Sribulancer memanfaatkan data kinerja yang membuat proses seleksi freelancer mudah dan dapat diandalkan. Sribulancer telah memiliki 6.000 klien, 30.000 freelancer, dan 1.500 proyek yang sudah maupun belum dikerjakan. Hingga saat ini Sribulancer memiliki 21 karyawan yang juga merupakan tim pengembang Sribu.

Perkembangan Sribulancer

Dalam pengembangan Sribulancer, Ryan fokus terhadap 2 hal utama yang terdiri dari pengembangan produk sesuai dengan permintaan pasar dan strategi pemasaran. Untuk itu, hal terpenting adalah mengerti kebutuhan pasar dan membantu menyelesaikan masalah yang ada di pasar.

Sribulancer dibangun untuk pasar di Indonesia sehingga semua sistem dan fitur yang dikembangkan telah disesuaikan dengan pasar di Indonesia. Ibaratnya tim pengembangan melakukan lokalisasi Sribulancer ini.

Selain itu, Ryan dan Sribulancer telah memiliki 30.000 freelancer yang semuanya dari Indonesia yang menjadi nilai tambah Sribulancer terhadap klien yang memerlukan freelancer dari Indonesia. Ryan bersama rekan-rekan Sribulancer membuat sistemnya sendiri agar pintar dan dapat membantu klien untuk membuat keputusan dalam perekrutan freelancer dan juga membantu freelancer dalam proses untuk mencari klien dan direkrut. Dalam hal ini Sribulancer menggunakan data untuk meningkatkan kemungkinan proyek berhasil.

Sribulancer sendiri memiliki beberapa fitur unggulan jasa yang ditawarkan bagi klien seperti freelancer berkualitas dalam hitungan jam, garansi uang kembali dan ganti freelancer tanpa biaya tambahan. Selain itu, dalam Sribulancer ini terdapat beberapa jenis pekerjaan favorit seperti pembuatan website, copywriting, entri data, desain dan penerjemahan

Untuk mendapatkan keuntungan bagi Sribulancer, Ryan memiliki strategi dengan mengambil komisi 10% dari setiap proyek yang berhasil. Meskipun begitu, Sribulancer masih memiliki tantangan dalam mengedukasikan mengenai sistem crowdsourcing yang dimilikinya kepasar Indonesia dan mencari klien yang membutuhkan jasanya.

Sribu dan Sribulancer Menuju Perusahaan Go Global

Ryan memiliki harapan agar Sribu dan Sribulancer bisa menjadi website lokal yang dapat berkembang secara global dan melayani klien dari seluruh dunia serta membuka lebih dari 100.000 lowongan kerja freelance bagi masyarakat Indonesia.

Selain itu, dirinya berpesan bagi startup Indonesia untuk tetap berinovasi walaupun memulai bisnis tidak mudah, namun mencoba adalah setengah dari keberhasilan. Pada saat terjun membuka usaha sendiri, pastikan memberikan komitmen penuh dan kerja secara pintar.

Tentunya untuk mendukung kemajuan dari startup Indonesia tersebut, perlu adanya dukungan dari pemerintah Indonesia dengan membantu ekosistem startup yag akan tumbuh agar tidak kalah bersaing dengan negara-negara tetangga.