Berita

Winamp Akan Dihidupkan Kembali Dengan Konsep Yang Lebih Baru

[Ilustrasi Oleh Pixabay]

Winamp, yakni salah satu platform pemutar musik digital yang cukup populer di masa lalu, tampaknya akan kembali bukan hanya dengan eksistensinya, namun juga akan membawa perubahan besar-besaran pada tahun 2019 mendatang.

Perusahaan induknya, Radionomy, telah berencana untuk menghidupkan kembali platform yang merupakan peninggalan masa lalu di bidang musik digital tersebut dan mengubahnya menjadi sebuah layanan terpadu untuk semua hal berbasis suara, seperti podcasts, playlists, dan stasiun streaming radio.

Platform Winamp memang sudah cukup lama tidak mendapatkan pembaruan aplikasi, baik untuk aplikasi selulernya (termasuk untuk iOS dan Android) maupun aplikasi desktopnya. Terakhir kali platform ini mendapatkan pembaruan adalah pada tahun 2013 untuk versi 5.666.

Namun setelah terjual pada tahun ini setelah ditinggalkan cukup lama, tampaknya geliat untuk menghidupkan kembali platform ini kembali menguat. Salah satunya, dengan pembaruan pertamanya setelah sekian lama tidak dilakukan, yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober 2018 mendatang dengan menghadirkan versi 5.8.

Melalui pembaruan ini, Winamp akan menghadirkan berbagai macam perbaikan bug sekaligus peningkatan beberapa dukungan kompabilitas, yang akan membuat aplikasi-aplikasinya dapat tetap berjalan saat ini atau hingga nantinya aplikasi tersebut dihidupkan kembali.

Selanjutnya, Winamp 6 diharapkan akan hadir pada tahun 2019 mendatang dan menandai konsep baru dari platform yang baru hidup kembali tersebut, tentu saja lengkap dengan aplikasi-aplikasi seluler yang akan menyertainya.

Dalam wawancaranya bersama TechCrunch, CEO Radionomy Alexandre Saboundjian membayangkan bahwa platform baru dari Winamp akan menjadi sebuah agregator yang akan menyatukan semua hal yang bisa didengarkan dalam satu platform pencarian.

Namun meskipun demikian, sang CEO tersebut juga belum memberikan informasi tentang bagaimana Winamp yang baru akan terintegrasi dengan layanan musik lainnya, seperti Spotify, Apple Music, Pandora, atau opsi streaming populer lainnya.

Padahal dalam kemungkinan terbesarnya, akan sedikit sulit untuk mengajak perusahaan-perusahaan streaming musik tersebut untuk keluar dari masing-masing ekosistem yang telah dimiliki perusahaan tersebut.

Selain itu pun, Alexandre Saboundjian tidak menjelaskan secara mendetail mengenai kostumisasi yang menjadi andalan platform tersebut di masa lalu. Sebagai mana kita tahu bersama, pemutar musik ini menawarkan modifikasi tanpa akhir, yang memungkinkan pengguna untuk membuat pemutar musik ini terlihat seperti yang mereka inginkan.

[Sumber: Engadget]

Share
Published by
Sukindar

Recent Posts

Cisco Peringkatkan Kerentanan Kritis Dalam Cisco Data Center Network Manager

Cisco mengungkapkan tiga kerentanan dalam layanannya. Ini dia penanganannya!

January 7, 2020

Optimal idM Meluncurkan OptimalCloud Partner Platform

Ini ulasan mengenai keuntungan OptimalCloud Partner Platform, platform baru milik Optimal idM!

January 6, 2020

Google Siapkan Coral Accelerator Module dan Coral Dev Board Mini untuk Tahun 2020

Google kenalkan dua koleksi baru dari Coral. Dua koleksi baru ini bakal menambah kemampuan pengembangan…

January 3, 2020

Google Kembangkan Model Kecerdasan Buatan Untuk Deteksi Kanker Payudara

Raksasa Google baru saja mengembangkan sistem pemindaian kanker payudara berbasis kecerdasan buatan. Bagaimana hasilnya, berikut…

January 3, 2020

Google Dorong Fitur Bubbles Notifications Ke Versi Stabil

Meski dikenalkan bersamaan dengan Android 10 Beta, sampai kini Bubbles Notifications masih dalam tahap pengembangan.…

December 31, 2019

Samsung Siapkan Lima Proyek dan Empat Startup C-Lab Untuk CES 2020

Samsung akan kembali memamerkan hasil program C-Lab ke ajang CES 2020. Ini dia proyek dan…

December 30, 2019